Dunia “Bersatu” Selamatkan Korban Gempa Myanmar: China, Rusia, hingga Indonesia
Pada Jumat, 28 Maret 2025, Myanmar diguncang oleh gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang menyebabkan kerusakan parah dan menewaskan ribuan orang. Di tengah situasi darurat ini, negara-negara seperti China, Rusia, dan Indonesia bersatu dalam upaya pencarian dan penyelamatan korban.
Tim penyelamat dari China dan Rusia segera dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak, termasuk Naipidau dan Mandalei, yang merupakan area paling parah terkena dampak. Meskipun menghadapi tantangan dari gempa susulan yang terus terjadi, tim dari China berhasil menyelamatkan enam orang. Mereka diterjunkan dengan keahlian khusus, termasuk ahli gempa bumi dan insinyur struktur, untuk menavigasi puing-puing bangunan yang runtuh.
Rusia juga mengirimkan tim penyelamat berjumlah 264 orang, lengkap dengan anjing pelacak untuk mencari korban di antara reruntuhan. Operasi penyelamatan mereka mencakup penggunaan rumah sakit udara untuk memberikan bantuan medis kepada para korban.
Tak hanya China dan Rusia, sejumlah negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Indonesia turut berkontribusi. Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan, mengirimkan 12 ton bantuan logistik untuk mendukung korban gempa. Upaya penyelamatan ini berlangsung di tengah keterbatasan area kerja dan ancaman gempa susulan yang masih mengintai.
Perkembangan terbaru mencatat bahwa jumlah korban tewas akibat gempa telah mencapai 2.700 orang, dengan lebih dari 4.500 terluka dan hampir 441 orang dilaporkan hilang. Hingga kini, 403 orang berhasil diselamatkan di Mandalei, sementara lebih dari 10.000 bangunan dilaporkan hancur atau rusak parah.
Dalam waktu krusial 72 jam setelah gempa, tim penyelamat lokal dan internasional terus berupaya keras untuk menemukan lebih banyak korban. Semangat solidaritas dari berbagai negara menunjukkan bahwa dalam situasi sulit, dunia dapat bersatu untuk memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.