Ahli Sebut Kekuatan Gempa Myanmar Setara 334 Bom Atom
Gempa bumi yang mengguncang Myanmar pada Jumat, 28 Maret 2025, telah menggemparkan dunia dengan kekuatan yang setara dengan ledakan 334 bom atom. Perkiraan tersebut disampaikan oleh geolog asal Amerika Serikat, Jess Phoenix, yang menjelaskan bahwa getaran gempa yang berpusat di Sagaing ini tidak hanya dirasakan di Myanmar, tetapi juga hingga 1.000 kilometer di Bangkok, Thailand.
Sejak bencana terjadi, jumlah korban jiwa terus meningkat. Hingga Minggu, 30 Maret 2025, tercatat 1.700 orang telah meninggal dunia dan 300 orang masih dalam pencarian. Junta militer Myanmar melaporkan bahwa lebih dari 3.400 orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempa dahsyat ini. Kerusakan yang ditimbulkan sangat besar, dengan banyak bangunan hancur, jembatan roboh, dan jalan-jalan yang mengalami kerusakan parah di seluruh penjuru Myanmar. Kota Mandalay, yang merupakan kota terbesar kedua di negara itu dengan populasi lebih dari 1,7 juta orang, mengalami dampak paling parah dari bencana ini.
Gempa ini dipicu oleh tabrakan antara lempeng India dan lempeng Eurasia, yang terus berlangsung dan memicu kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan kekuatan beragam dalam waktu dekat. Para ahli mengingatkan bahwa masyarakat harus tetap waspada terhadap kemungkinan guncangan lanjutan.
Dalam upaya penanggulangan bencana, berbagai negara telah mengirimkan tim penyelamat dan bantuan kemanusiaan. Cina menjadi negara pertama yang mengirimkan bantuan, berjanji memberikan dukungan senilai 13 juta dolar AS atau sekitar Rp215 miliar. Selain itu, tim tanggap darurat dari Rusia dan India juga telah tiba di lokasi, sementara ASEAN menyatakan siap untuk mengirimkan tim bantuan serta memanfaatkan mekanisme logistik bencana yang ada.
Situasi di Myanmar saat ini sangat memprihatinkan, dan solidaritas internasional sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak bencana ini.